Skip to content
DIFOUMA — homeLet’s talk

Insights / Analytics and Tracking

Ditinjau

Cara Tracking Lead WhatsApp dari Iklan: Sampai Tahu Mana yang Closing

Dimas Yudha PratamaFounder, DIFOUMA

Untuk tahu chat WhatsApp mana yang datang dari iklan dan mana yang akhirnya membeli, ada tiga hal yang perlu dikerjakan: tandai setiap chat dengan asal iklannya, catat status setiap lead sampai closing, lalu kirim hasil itu kembali ke Google Ads dan Meta Ads. Dua langkah pertama membuat laporan Anda jujur. Langkah ketiga membuat iklan Anda belajar mencari pembeli, bukan sekadar orang yang suka bertanya.

Kebanyakan bisnis yang saya temui berhenti di langkah pertama, atau malah sebelum itu: mereka menghitung klik tombol WhatsApp sebagai lead. Laporan iklan terlihat ramai, admin kewalahan membalas chat yang tidak serius, dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan paling penting: iklan mana yang menghasilkan uang?

Kenapa jejak iklan hilang saat calon pembeli pindah ke WhatsApp?

Google dan Meta tahu siapa yang mengklik iklan Anda. Mereka tidak bisa melihat isi percakapan WhatsApp, penawaran harga yang dikirim admin, atau transfer yang masuk tiga minggu kemudian.

Jejak asal iklan juga rapuh. Saat seseorang mengklik iklan Google, alamat halaman pertama yang ia buka membawa kode klik bernama gclid. Iklan Meta membawa fbclid, dan kampanye yang diberi label membawa UTM. Begitu orang itu pindah halaman atau membuka aplikasi WhatsApp, kode-kode itu hilang kalau tidak disimpan.

Akibatnya, platform hanya bisa belajar dari kejadian terakhir yang ia lihat, yaitu klik atau chat. Kalau itu satu-satunya sinyal yang Anda berikan, algoritma akan mencari lebih banyak orang yang suka mengklik dan chat. Itu belum tentu orang yang membeli.

Dua jalur iklan ke WhatsApp, dan cara melacak masing-masing

Cara melacaknya tergantung apakah iklan Anda langsung membuka WhatsApp, yang di Facebook dan Instagram disebut iklan Click-to-WhatsApp, atau lewat landing page dulu. Bedanya besar, dan banyak tutorial mencampurnya.

Iklan langsung ke WhatsAppIklan ke landing page, lalu tombol WhatsApp
Yang dicatat platformMeta mencatat percakapan yang dimulai dari iklanGoogle Ads dan Meta mencatat kunjungan, dan klik tombol WhatsApp jika Anda memasang konversinya
Yang hilangStatus lead dan penjualan setelah chat dimulaiHubungan antara klik di website dan chat yang benar-benar masuk, lalu status penjualannya
Cara melacaknyaDengan WhatsApp Business Platform: simpan kode klik iklan dari pesan pertama, lalu kirim status lead lewat Conversions API. Dengan aplikasi biasa: label per kampanye, dicatat manualSimpan kode klik saat kunjungan pertama, beri kode referensi di pesan WhatsApp, lalu cocokkan dengan catatan penjualan

Jalur langsung lebih pendek untuk calon pembeli, tapi tidak ada website yang bisa menyimpan apa pun. Jalur landing page menambah satu langkah, tapi memberi Anda tempat untuk menandai setiap chat. Sisa artikel ini fokus ke jalur kedua, karena di situlah kebanyakan bisnis kehilangan jejaknya.

Chat dari iklan belum tercatat sampai penjualan? Saya telusuri alurnya dari klik sampai closing.

Minta audit gratis

Langkah 1: Tandai setiap chat dengan asal iklannya

Simpan kode klik dan UTM di browser pengunjung saat ia pertama kali tiba di website. Lalu, saat ia menekan tombol WhatsApp, sisipkan kode referensi pendek ke pesan yang sudah terisi otomatis. Kode itu menunjuk ke satu baris data berisi asal iklannya.

Kenapa tidak langsung menempelkan gclid ke pesan? Karena gclid panjangnya puluhan karakter acak. Pesan yang berisi deretan kode seperti itu terlihat seperti spam bagi orang yang diminta mengirimnya, dan banyak yang akan menghapusnya sebelum menekan kirim.

Begini difouma.com melakukannya

Website ini memakai sistem yang sama. Kalau Anda datang dari iklan lalu menekan tombol WhatsApp, pesan Anda akan dimulai dengan kode seperti [DFM-A7K2QX]. Di belakang layar, beberapa hal terjadi:

  • Saat Anda tiba, kode klik dari Google, Meta, TikTok, atau Microsoft dan label UTM disimpan di browser Anda selama maksimal 90 hari. Kalau Anda kembali lewat iklan lain, klik terakhir yang dipakai.
  • Saat Anda menekan tombol WhatsApp, satu baris dikirim ke Google Sheet: kode referensi, kode klik, UTM, halaman pertama yang Anda buka, dan waktunya. Salinannya juga dikirim ke CRM.
  • Kodenya enam karakter dan tidak memakai huruf atau angka yang mirip, seperti 0 dan O atau 1 dan I. Admin yang membacanya di layar ponsel tidak akan salah salin.
  • Kode diletakkan di baris pertama, bukan di akhir pesan. WhatsApp menaruh kursor di akhir teks, jadi apa pun yang ada di akhir adalah bagian yang paling mungkin dihapus atau ditimpa.
  • Pengunjung yang datang tanpa iklan, misalnya dari pencarian Google biasa, mendapat pesan bersih tanpa kode. Kode yang hanya akan berkata “asal tidak diketahui” cuma jadi gangguan di chat.
  • Kalau browser tidak bisa mengirim baris datanya, misalnya karena sinyal hilang, kode klik ditulis langsung di bawah pesan. Tampilannya kurang rapi, tapi lebih baik daripada kode referensi yang tidak menunjuk ke apa pun.

Saat chat masuk, admin cukup mencari kodenya di Sheet. Asal iklannya langsung terlihat, tanpa bertanya ke calon pembeli “tahu kami dari mana?”, pertanyaan yang jawabannya hampir selalu “dari Instagram”.

Kalau belum punya website atau developer

Pakai cara yang lebih kasar: pesan pembuka yang berbeda untuk tiap kampanye, atau nomor WhatsApp berbeda untuk tiap channel. Pesan bisa diedit dan nomor bisa diteruskan, jadi hasilnya tidak setepat kode referensi. Tapi ini jauh lebih baik daripada tidak melacak sama sekali.

Langkah 2: Catat klik WhatsApp sebagai konversi, tapi jangan berhenti di situ

Di Google Tag Manager, buat trigger untuk klik link yang menuju wa.me atau api.whatsapp.com, lalu kirim sebagai konversi ke Google Ads dan Meta. Ini sinyal pertama yang bisa dilihat platform, dan untuk akun yang baru mulai, sinyal ini sering satu-satunya yang cukup banyak untuk dipakai belajar.

Tapi beri nama yang jujur. Klik bukan lead. Sebagian orang mengklik lalu tidak mengirim apa pun. Sebagian lagi mengirim satu pesan “berapa harganya?” lalu menghilang. Kalau Anda menyebut konversi ini “Lead”, cepat atau lambat seseorang akan menilai iklan dari angka itu.

Saya menamainya apa adanya, misalnya “Klik WhatsApp”, dan memakainya sebagai sinyal awal. Penilaian iklan menunggu langkah berikutnya.

Langkah 3: Catat status setiap lead di satu tempat

Kode referensi tidak berguna kalau tidak ada yang mencatat apa yang terjadi setelah chat masuk. Ini bagian yang paling sering gagal, dan penyebabnya hampir selalu sama: formatnya terlalu rumit untuk dikerjakan admin setiap hari.

Mulai dari kolom ini saja:

  • Kode referensi
  • Tanggal chat pertama
  • Sumber iklan, yang bisa dibaca dari kode referensi
  • Status: baru, layak, booking, closing, atau tidak jadi
  • Alasan tidak jadi, kalau ada
  • Nilai transaksi saat closing

Spreadsheet sudah cukup untuk volume yang masih bisa ditangani satu atau dua orang. Label di aplikasi WhatsApp Business juga bisa membantu admin memilah chat, asalkan statusnya tetap dipindahkan ke satu tempat yang bisa dihitung. CRM baru masuk akal ketika lead ditangani banyak orang atau statusnya sering berpindah tangan.

Tulis juga apa arti “layak”. Untuk properti, bisa berarti budgetnya masuk dan lokasinya sesuai. Untuk klinik, bisa berarti treatment yang ditanyakan memang tersedia. Tanpa definisi tertulis, setiap admin akan menilai “serius” dengan caranya sendiri, dan angkanya tidak bisa dibandingkan dari bulan ke bulan.

Langkah 4: Kirim hasilnya kembali ke Google Ads dan Meta Ads

Di sinilah iklan mulai belajar mencari pembeli. Begitu lead berstatus layak atau closing, kirim kejadian itu kembali ke platform yang membawanya.

Google Ads

Gunakan impor konversi offline berdasarkan gclid. Karena gclid sudah tersimpan bersama kode referensi di Langkah 1, Anda tinggal mengirim baris berisi gclid, nama konversinya, dan waktu kejadiannya. Ada tiga syarat yang sering terlewat:

  • Auto-tagging di akun Google Ads harus aktif. Tanpa itu, gclid tidak pernah muncul di alamat halaman.
  • Konversi harus dikirim dalam 90 hari sejak klik. Untuk bisnis dengan proses jual yang lebih panjang, kirim tahap yang lebih awal, misalnya lead layak, supaya tidak kehilangan semuanya.
  • gclid membedakan huruf besar dan kecil. Simpan dan kirim persis seperti yang tertangkap.

Google Ads juga punya kategori qualified lead dan converted lead untuk membedakan tahap-tahap ini. Saya biasanya mengirim keduanya, lalu memilih mana yang dipakai untuk bidding setelah jumlahnya cukup.

Meta Ads

Untuk iklan yang langsung membuka WhatsApp, Meta menyediakan Conversions API for Business Messaging. Menurut dokumentasi Meta, pesan pertama dari orang yang mengklik iklan membawa kode klik bernama ctwa_clid. Bisnis menyimpan kode itu, lalu mengirim kejadian seperti LeadSubmitted, QualifiedLead, atau Purchase kembali ke Meta.

Syaratnya, nomor Anda harus tersambung ke WhatsApp Business Platform, dan Meta merekomendasikan Cloud API. Dokumentasinya tidak menyebut aplikasi WhatsApp Business biasa. Kalau Anda masih memakai aplikasi di ponsel, kode klik ini tidak akan sampai ke catatan Anda.

Untuk jalur landing page, website ini juga menyimpan kode browser dan kode klik Meta bersama baris referensinya, supaya status lead nanti bisa dikirim lewat Conversions API.

Batasnya: tidak semua chat bisa ditelusuri. Calon pembeli bisa menghapus kode, pindah perangkat, atau menyimpan nomor Anda lalu menghubungi minggu depan. Laporkan berapa persen chat yang berhasil dicocokkan, dan biarkan sisanya tercatat sebagai “sumber tidak diketahui”. Itu lebih berguna daripada memaksakan atribusi untuk semuanya.

Kesalahan yang paling sering terjadi

  • Menghitung setiap klik WhatsApp sebagai lead. Angkanya terlihat bagus dan tidak berarti apa-apa.
  • Menjumlahkan konversi Google dan Meta. Satu pembeli yang melihat iklan di keduanya bisa diklaim dua kali. Jumlah pembeli yang sebenarnya ada di catatan penjualan Anda, bukan di dashboard platform.
  • Mengoptimalkan iklan ke chat terbanyak. Platform akan memberi Anda lebih banyak chat, termasuk yang tidak pernah membeli.
  • Sistemnya ada, catatannya tidak. Kode referensi masuk, tapi admin tidak pernah mengisi status. Hasilnya sama dengan tidak melacak.
  • Tidak ada yang mencocokkan angka setiap bulan. Bandingkan laporan platform dengan catatan penjualan minimal sebulan sekali. Selisih yang besar hampir selalu berarti ada definisi yang salah, bukan iklan yang ajaib.

Contoh alurnya di dua industri

Properti

Chat masuk, lead layak, survei lokasi, booking fee, lalu akad. Prosesnya bisa berbulan-bulan, jadi kirim “lead layak” dan “survei” ke platform lebih dulu, jangan menunggu akad. Untuk Kawa Village, ukuran yang saya pakai adalah biaya per MQL, yaitu lead yang sudah lolos kualifikasi, bukan biaya per chat. Biaya itu turun 44% dibanding rata-rata sebelumnya. Lebih lengkap tentang iklan properti yang diukur sampai akad.

Klinik kecantikan

Chat masuk, booking, pasien datang, bayar, lalu kembali lagi. Booking yang batal tidak dihitung sebagai kunjungan. Untuk Soma, ukurannya biaya per booking, yang turun 48% di 30 hari pertama dibanding bulan sebelumnya. Lebih lengkap tentang iklan klinik yang diukur sampai pasien datang.

Mulai dari satu kampanye

Pilih satu kampanye dan telusuri satu chat dari awal sampai akhir: iklan, kunjungan, kode referensi, status, transaksi. Di mana pun jejaknya putus, di situlah pekerjaan pertama Anda.

Kalau Anda ingin bagian ini dikerjakan, tracking adalah layanan yang bisa diambil sendiri, tanpa harus menyerahkan pengelolaan iklan. Lihat layanan data dan analytics DIFOUMA, atau ceritakan setup Anda dan saya akan memberi tahu di mana jejaknya hilang.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah harus memakai WhatsApp Business API?

Tidak untuk mulai melacak. Kode referensi, spreadsheet, dan aplikasi WhatsApp Business biasa sudah cukup untuk tahu chat mana yang datang dari iklan mana. API baru dibutuhkan kalau Anda ingin mengirim status lead dari iklan Click-to-WhatsApp kembali ke Meta secara otomatis.

Bisa dengan aplikasi WhatsApp Business biasa?

Bisa, untuk jalur landing page. Kode referensi masuk ke chat seperti pesan biasa, dan admin mencocokkannya dengan Sheet. Untuk iklan yang langsung membuka WhatsApp, aplikasi biasa tidak menerima kode klik iklannya, jadi pencatatannya manual.

Kenapa konversi di Meta atau Google lebih banyak daripada chat yang masuk?

Biasanya karena yang dihitung platform adalah klik, bukan pesan yang terkirim. Penyebab lain: konversi yang tercatat dua kali, aturan atribusi yang menghitung orang yang hanya melihat iklan, atau tanggal laporan yang berbeda. Periksa definisi konversinya dulu sebelum menyalahkan admin atau iklannya.

Bagaimana kalau iklannya langsung ke WhatsApp, tanpa website?

Mulai dari laporan percakapan di Ads Manager dan label per kampanye di WhatsApp. Untuk mengirim hasilnya balik ke Meta, nomor Anda perlu tersambung ke WhatsApp Business Platform supaya kode klik dari pesan pertama bisa disimpan.

Berapa lama setup tracking seperti ini?

Tergantung bagian yang belum ada. Pencatatan status di spreadsheet bisa dimulai minggu ini. Kode referensi di website dan impor konversi offline ke Google Ads butuh pekerjaan teknis, dan sambungan Conversions API untuk Click-to-WhatsApp butuh setup WhatsApp Business Platform lebih dulu. Mulai dari satu kampanye, buktikan alurnya jalan, baru perluas.

Baca selanjutnya

Lanjut membaca.
Masih seputar iklan dan tracking.

Langkah berikutnya

See where the accountleaks.

A 30-minute teardown of your live account. No deck. No pitch.