Skip to content
DIFOUMA — homeLet’s talk

Insights / Analytics and Tracking

Ditinjau

Berapa CPL yang Masuk Akal? Hitung dari Margin, Bukan dari Benchmark

Dimas Yudha PratamaFounder, DIFOUMA

CPL yang masuk akal adalah batas biaya iklan per pelanggan dikali closing rate. Kalau bisnis Anda sanggup membayar Rp200.000 untuk mendapat satu pelanggan dari iklan, dan 10% lead akhirnya membeli, CPL Anda tidak boleh lebih dari Rp20.000. Lebih dari itu, setiap pelanggan baru dibeli dengan uang yang tidak Anda punya.

Rumusnya sederhana. Yang sulit adalah jujur pada dua angkanya: berapa yang benar-benar tersisa dari satu pelanggan, dan berapa closing rate yang sebenarnya, bukan yang diharapkan.

Kenapa benchmark CPL industri tidak bisa menjawab pertanyaan ini?

Karena tiga hal yang menentukan batas CPL berbeda di setiap bisnis: apa yang dihitung sebagai lead, berapa margin per pelanggan, dan berapa yang akhirnya membeli. Benchmark mencampur semuanya menjadi satu rata-rata.

CPL Rp50.000 bisa terlalu mahal untuk treatment klinik seharga Rp300.000, dan sangat murah untuk rumah seharga Rp800 juta. Dua bisnis di industri yang sama pun bisa punya batas yang jauh berbeda kalau satu menjual paket premium dan satu lagi bersaing di harga.

Benchmark boleh dipakai sebagai konteks, kalau definisi lead, channel, wilayah, dan periodenya sebanding. Tapi target Anda harus dihitung dari angka Anda sendiri.

Langkah 1: Hitung berapa yang tersisa dari satu pelanggan

Mulai dari pendapatan bersih satu pelanggan baru, lalu kurangi biaya yang muncul karena transaksi itu terjadi.

Pendapatan bersih berarti setelah diskon dan pengembalian dana, tanpa pajak yang hanya Anda teruskan ke pihak lain. Biaya variabel adalah biaya yang tidak akan ada kalau transaksi tidak terjadi. Untuk klinik, misalnya bahan treatment dan komisi dokter per tindakan. Untuk toko, harga pokok barang, ongkos kirim yang Anda tanggung, dan biaya payment gateway.

Selisihnya adalah margin kontribusi, yaitu uang yang tersisa untuk membayar akuisisi, biaya tetap, dan laba.

Pakai transaksi pertama saja dulu. Pembelian ulang boleh dihitung kalau Anda punya data berapa banyak pelanggan yang benar-benar kembali dan dalam berapa lama. Harapan bahwa pelanggan akan kembali bukan alasan untuk menaikkan batas CPL.

Belum yakin CPL Anda masih aman? Saya hitung bersama data akun Anda.

Minta audit gratis

Langkah 2: Tentukan berapa yang boleh habis untuk iklan

Margin kontribusi tidak semuanya untuk iklan. Kurangi dulu biaya akuisisi di luar belanja iklan, misalnya fee agency, produksi konten, tools, dan komisi sales, yang dibagi rata per pelanggan. Lalu sisihkan bagian yang ingin Anda simpan untuk biaya tetap, pajak penghasilan, dan laba.

Sisanya adalah batas biaya iklan per pelanggan. Angka inilah yang dikalikan dengan closing rate.

Hati-hati menghitung biaya yang sama dua kali. Kalau komisi sales sudah masuk biaya variabel di Langkah 1, jangan masukkan lagi di sini.

Langkah 3: Kalikan dengan closing rate

Closing rate di sini adalah pelanggan baru dibagi semua lead dari kelompok yang sama. Kalau 100 lead masuk di bulan Juli dan 10 di antaranya membeli sampai akhir September, closing rate-nya 10%.

Contoh hitungan, bukan data klien: satu penawaran jasa, transaksi pertama saja, lead masuk 1 sampai 31 Juli, penjualan dihitung sampai 30 September.

Per pelanggan baru
Pendapatan bersihRp1.000.000
Biaya variabelRp600.000
Margin kontribusiRp400.000
Biaya akuisisi selain iklanRp100.000
Bagian yang ingin disisakanRp100.000
Batas biaya iklan per pelangganRp200.000
Closing rate (10 dari 100 lead)10%
Batas CPLRp20.000

Coba cek dengan angka total. Belanja iklan Rp2.000.000 untuk 100 lead berarti CPL Rp20.000. Sepuluh pelanggan membawa pendapatan bersih Rp10.000.000. Setelah biaya variabel Rp6.000.000, akuisisi selain iklan Rp1.000.000, dan iklan Rp2.000.000, tersisa Rp1.000.000. Itu bagian yang Anda sisihkan, bukan laba bersih. Biaya tetap dan pajak belum dibayar dari situ.

Rumus yang sama bisa dibalik: biaya iklan per pelanggan sama dengan CPL dibagi closing rate. Dengan CPL Rp20.000 dan satu dari sepuluh lead membeli, Anda butuh sepuluh lead untuk satu pelanggan, jadi Rp200.000.

Seberapa sensitif angkanya?

Sangat. Closing rate yang turun separuh membuat batas CPL juga turun separuh.

Closing rateBatas CPLBiaya iklan per pelanggan kalau CPL tetap Rp20.000
5%Rp10.000Rp400.000
10%Rp20.000Rp200.000
15%Rp30.000sekitar Rp133.333

Lihat baris pertama. Kalau closing rate ternyata 5%, CPL Rp20.000 yang tadinya aman membuat setiap pelanggan berbiaya Rp400.000, dua kali dari batas Rp200.000. Menambah budget tidak menyelesaikan masalah ini. Yang bisa menyelesaikannya adalah CPL yang lebih rendah, closing rate yang lebih tinggi, atau margin yang lebih besar.

Karena itu, saya menyarankan memakai closing rate yang konservatif untuk menetapkan target, bukan angka dari bulan terbaik. Kalau batas dihitung tepat di kondisi terbaik, penurunan kecil langsung membuat iklan rugi.

Satu hal lagi: closing rate yang tercapai di budget kecil belum tentu bertahan saat budget dinaikkan. Platform biasanya harus menjangkau orang yang kurang cocok untuk menghabiskan budget yang lebih besar. Hitung ulang setiap kali skalanya berubah.

Jangan campur lead layak dengan semua lead

Misalkan dari 100 lead, 40 memenuhi kriteria layak dan 10 membeli. Ada dua closing rate di sini:

  • Semua lead menjadi pelanggan: 10 dari 100, yaitu 10%.
  • Lead layak menjadi pelanggan: 10 dari 40, yaitu 25%.

Dengan batas Rp200.000 per pelanggan, batas CPL untuk semua lead adalah Rp20.000. Batas biaya per lead layak adalah Rp50.000. Keduanya benar, selama dipasangkan dengan definisinya masing-masing.

Kesalahan yang sering terjadi adalah memakai closing rate 25% untuk menilai CPL semua lead. Batasnya jadi terlihat Rp50.000, dua setengah kali lebih longgar dari yang sebenarnya, dan iklan terus berjalan padahal sudah rugi.

Closing rate juga harus dihitung dari kelompok lead yang sudah cukup umur. Kenapa itu penting, dan cara mengelompokkannya, ada di artikel lead murah tapi tidak closing.

Kalau belum punya closing rate yang bisa dipercaya

Pakai dua atau tiga skenario, misalnya 5%, 10%, dan 15%, dan tulis jelas bahwa itu asumsi. Tetapkan batas biaya uji yang sanggup Anda tanggung kalau skenario terburuk yang terjadi. Lalu rapikan pencatatan lead dan perbarui hitungannya begitu kelompok lead pertama sudah punya hasil.

Kalau belum ada pelanggan sama sekali, belum ada biaya per pelanggan yang bisa dihitung. Tampilkan apa adanya: belanja, jumlah lead, berapa yang masih dalam proses, dan “belum ada pelanggan”. Jangan mengisinya dengan angka kecil supaya laporan terlihat lengkap.

Kalau lead Anda belum tercatat sampai penjualan, mulai dari cara tracking lead WhatsApp dari iklan. Closing rate tanpa catatan penjualan hanyalah tebakan.

Kalau CPL sudah melewati batas

Ada tiga kemungkinan, dan masing-masing butuh tindakan yang berbeda:

  • Harga lead terlalu tinggi. Periksa targeting, materi iklan, dan halaman tujuannya.
  • Closing rate terlalu rendah. Periksa siapa yang ditarik iklan dan apa yang terjadi setelah chat pertama.
  • Margin terlalu tipis. Tidak ada setelan iklan yang bisa memperbaikinya. Yang perlu ditinjau adalah harga, biaya pemenuhan, atau paket yang dijual.

Untuk dua kemungkinan pertama, lima tempat yang perlu diperiksa membantu menemukan titik bocornya.

Mulai dari satu penawaran

Ambil penawaran yang paling sering Anda iklankan. Hitung margin kontribusinya, kurangi biaya akuisisi selain iklan dan bagian yang ingin disisakan, lalu kalikan dengan closing rate dari kelompok lead yang sudah cukup umur. Bandingkan hasilnya dengan CPL Anda bulan lalu. Selisihnya akan memberi tahu apakah masalah Anda di iklan, di penjualan, atau di penawarannya.

Kalau Anda ingin hitungan ini diperiksa bersama data akun iklan Anda, minta audit gratis. Saya mulai dari definisi lead dan konversi yang dipakai, karena dari situlah semua angka di atas berasal.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah ada benchmark CPL untuk setiap industri?

Ada, tapi hanya berguna sebagai konteks. Benchmark mencampur definisi lead, margin, dan closing rate dari banyak bisnis yang berbeda. Target CPL Anda tetap harus dihitung dari margin dan closing rate Anda sendiri.

Apakah target CPL sama dengan target CPA di Google Ads atau Meta?

Tidak selalu. Target CPA mengikuti kejadian yang dipilih sebagai konversi di platform. Kalau konversinya klik WhatsApp, target CPA itu adalah biaya per klik WhatsApp, bukan biaya per lead. Samakan definisinya dulu sebelum memasukkan angka batas CPL sebagai target.

Bolehkah memasukkan pembelian berulang?

Boleh, kalau ada data berapa pelanggan yang benar-benar kembali, berapa nilainya, dan dalam berapa lama. Ingat juga soal kas: biaya iklan dibayar sekarang, sedangkan pembelian ulang datang belakangan.

Apakah ROAS tinggi berarti CPL saya aman?

Tidak otomatis. ROAS membandingkan pendapatan dengan belanja iklan saja. Margin, biaya variabel, diskon, pengembalian dana, dan biaya akuisisi lain tidak ikut dihitung. ROAS 5x bisa tetap rugi kalau marginnya tipis.

Bagaimana kalau batas biaya iklan per pelanggan nol atau negatif?

Berarti dengan harga dan biaya saat ini, tidak ada ruang untuk membayar iklan sambil tetap menyisakan bagian yang Anda rencanakan. Mengubah target bidding tidak akan menolong. Yang perlu ditinjau adalah harga, biaya pemenuhan, atau bagian yang ingin disisakan.

Baca selanjutnya

Lanjut membaca.
Masih seputar iklan dan tracking.

Langkah berikutnya

See where the accountleaks.

A 30-minute teardown of your live account. No deck. No pitch.